Rabu, November 16, 2011

Rabu, November 16, 2011 - No comments

Baitud Dakwah

Oleh : [alm] KH Rahmat Abdullah
Suatu malam menjelang fajar, dalam inspeksi rutinnya, Khalifah II Umar bin Khattab mendengar dialog menarik antara seorang ibu dengan gadis kencurnya."Cepatlah bangun, perah susu kambing kita dan campurkan dengan air sebelum orang bangun dan melihat kerja kita."Bu, saya tak berani, ada yang selalu melihat gerak-gerik kita."Siapa sih sepagi ini mengintai kita?" sang ibu balik bertanya. "Bu, Allah tak pernah lepas memperhatikan kita." Khalifah segera kembali dengan satu tekad yang esok dilaksanakannya, melamar sang gadis untuk puteranya, 'Ashim bin Umar. Kelak dari pernikahan ini lahir seorang cucu : Umar bin Abdul Aziz, khalifah kelima.

Tuan & Nyoya Da'wah yang saya hormati, Tentu saja istilah baitu da'wah ini tidak dimaksudkan sebagai rumah tempat warganya setiap hari berpidato. Juga bukan keluarga dengan aktifitas belajar mengajar seperti laiknya sebuah sekolah formal. Ia adalah sebuah wahana tempat pendidikan berlangsung secara mandiri dan alami namun bertarget jelas.

Ada kegawatan yang sangat ketika roda keluarga meluncur tanpa kendali. Saat salah seorang anggotanya sadar apa yang sedang terjadi, segalanya mungkin telah terlambat. "Keterlambatan" itu dapat mengambil bentuknya pada ABG yang asing dari nilai-nilai ayah ibunya, atau ayah yang lupa basis keluarganya oleh kesibukan kerja diluar, atau ibu yang terpuruk dalam rutinitas yang membunuh kreatifitasnya, atau karir yang menggilas peran dan fitrah keibuannya.

Banyak orang merasa telah menjadi suami, istri atau ayah dan ibu sungguhan, padahal mereka baru menjadi ayah, ibu, suami, atau istri biologis. Sangat kasar kalu diistilahkan menjadi jantan, betina, atau induk dan biang, walaupun dalam banyak hal ternyata ada kesamaan. Kalau hanya memberi makan dan minum kepada anak-anak: kambing, ayam, dan kerbau telah memerankan fungsi tersebut dengan sangat baik. Dan, isu sentral "pewarisan nilai-nilai kehidupan" dalam kehidupan mereka tak soal. Buktinya, tak satupun anak ayam yang berkelakuan kerbau atau anak kerbau berkelakuan belut, atau anak kambing berkelakuan serigala. Adalah suatu penyimpangan bahwa ada anak manusia bertingkahlaku babi, serigala, harimau, atau musang.

Tentu saja ini tidak dimaksud mendukung program robotisasi anak yang dipaksa menghafal seluruh program yang dijejalkan bapak-ibunya tanpa punya peluang menjadi dirinya sebagai hamba Allah, karena mereka harus menjadi hamba ayah, hamba ibu, dan hamba guru. Ini tidak ada hubungannya dengan program tahfidz atau apresiasi seni Islami yang menjadi bagian dari sungai fitrah tempat air kehidupan mengalir sampai jauh.

Misteri Berkah

Saat ini ada beberapa keluarga sederhana, dibimbing oleh "intuisi" kebapakan dan keibuan, mendapat berkah dalam mendidik anak-anak mereka. Anak SMU-nya lulus dengan baik, plus hafal 1000 Alfiah Ibnu Malik, rujukan utama gramatika Arab (Nahwu). Lumayan mengagumkan, jebolan SMU menjadi rujukan sesama mahasiswa di sebuah Universitas terkemuka di Negara Arab. Tahun-tahun berikutnya sang adik menyusul dengan hak beasiswa ke sebuah universitas unggulan di Eropa. Lainnya bisa melakoni dua kuliah yang "pelik" : bahasa Arab di sebuah kolese paling representatif sementara siangnya mengambil jurusan Ekonomi. Kemenakannya hafal Al-Qur'an 30 juz menjelang akhir semester delapan di institut teknologi paling bergengsi di negeri ini.

Kemenakan lainnya lulus akademi militer angkatan darat tanpa kehilangan kesantriannya yang pekat. Sang bapak jauh dari penguasaan teori ilmu-ilmu pendidikan. Ketika digali hal yang spesial dari kelakuannya, muncul jawaban yang signifikan : Kecintaan keluarga tersebut kepada ulama (dalam arti yang sesungguhnya) dan keberaniannya amar ma'ruf nahi mungkar tanpa harus selalu mengandalkan mimbar tabligh. Mengesankan sekali ucapan Ali Zainal Abidin, cucu Ali bin Abi Thalib, "Barangsiapa meninggalkan kewajiban amar ma'ruf nahi mungkar, maka anak, isteri, dan pembantunya pun akan membangkang kepadanya."

Ternyata memang, keikhlasan seseorang atau keluarga kerap menembus sampai beberapa generasi sesudahnya. Boleh jadi seseorang merasa telah mejadi bagian dari da'wah yang besar dan berkah, tetapi bukan sikap da'i yang dirawatnya. Alih-alih dari membimbing masyarakat dengan fiqh dan akhlak da'iyah, justru sebaliknya, hanya ghibah dan pelecehan yang digencarkannya terhadap masyarakat. Padahal, besar kemungkinan mereka tidak tersentuh da'wah atau tidak mendapatkan komunikasi yang memadai.

Ikhlas, nilai plus yang menembus lintas generasi Keikhlasan yang "naif" Nabi Ibrahim yang rela –demi melaksanakan perintah Allah- meninggalkan istri dan bayinya di lembah yang tak bertanaman di dekat rumah Allah yang dihormati (QS.Ibrahim : 37) menghasilkan bukan hanya turunan nasab yang konsisten, tetapi juga turunan fikrah yang militan.

Ummu Sulaim ibu Anas bin Malik yang begitu stabil emosinya dan begitu mendalam keikhlasannya menerima kematian bayinya, mendapat 100 anak dan cucu, semuanya telah hafal Al-Qur'an dalam usia sangat dini. Itu hasil hubungan yang penuh berkah -ditingkahi doa berkah Rasulullah SAW- di malam yang sangat beralasan baginya untuk "meratapi" bayinya yang tiada. Demikian pula pengkhianatan istri Nabi Luth dan Nabi Nuh –yang karenanya Allah menyebutnya dengan imra-ah (perempuan) bukan zaujah (istrinya)- melahirkan generasi yang sangat berbeda. Yang satu generasi sangat rabbani seperti Nabi Ismail as, yang cermin kepribadiannya membersit dalam ungkapan pekat nilai-nilai tauhid : "'Ayahanda, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, akan kau temukan daku insya Allah termasuk orang-orang yang sabar." (QS.37:102)

Di seberang lain dengan pongahnya Yam bin Nuh berkata,saat ayahnya mengajak naik bahtera penyelamat, "Aku akan berlindung ke gunung yang akan menyelamatkanku dari air bah." (QS.11:43). Di zaman ketika setiap serigala dengan mudah menyerbu masuk ke rumah-rumah yang tak lagi berpagar dan berpintu, siapa yang merasa aman dan mampu melindungi anak-anak fitrah dari terkamannya? Siapa yang tabah melindungi gelas bening dan kertas putih suci itu dari ancaman yang setiap waktu dapat memecah-hancurkan dan mencemari mereka? Siapa yang tak tergetar hatinya melihat cermin bening yang semestinya ia perhatikan betul raut wajahnya disana, seraya merintihkan desakan suara hatinya dalam sujud panjang di keheningan malam:

"Dan Kami telah berpesan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya mengandungnya dengan susah dan melahirkannya dengan susah. (Masa) hamil dan menyapihnya tiga puluh bulan. Sehingga ketika ia mencapai masa kuatnya dan mencapai usia empat puluh tahun ia berkata : Ya Rabbi, ajarkan daku agar dapat mensyukuri nikmat yang Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan beramal shalih yang Engkau ridhai serta perbaikilah untukku dalam keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu, dan aku termasuk kaum yang menyerahkan diri." (QS Al Ahqaf: 15).

Source : Pkspiyungan.blogspot.com

Rabu, November 16, 2011 - No comments

7 Arahan Ustadz Hilmi Aminuddin

Situasi yang kita hadapi sekarang adalah mata rantai dari ujian-ujian dakwah sebelumnya. Adalah sunatullah bahwa akan ada terus rekayasa untuk mengkerdilkan dakwah. Namun yang penting adalah bagaimana kemampuan kita untuk membuktikan dengan kerja nyata.

Kita sebagai dai dan daiyah diperintahkan oleh Allah SWT jika menghadapi sesuatu yang sulit, yang menghimpit, cepat kembali kepada Allah (fafirruu ilallah..). Kemudian selesaikan dengan mentadabburi konsep Allah. “Afala yatadabbarunal Qur’an am ‘ala quluubin aqfaluha.”

Dari tadabur ayat-ayat Allah ini, maka dalam menghadapi berbagai masalah, ancaman dan makar, maka kita harus memiliki bekalan-bekalan yakni:

(1) Atsbatu mauqifan (menjadi orang yang paling teguh pendirian/paling kokoh sikapnya)

• At-Tsabat (keteguhan) adalah tsamratus shabr (buah dari kesabaran).
• Famaa wahanuu lima ashobahum fii sabiilillahi waaa dhoufu wamastakanuu…
• “…mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah. Allah menyukai orang-orang yang sabar…” (3:146)
• Keteguhan itu membuat kita tenang, rasional, obyektif dan mendatangkan kepercayaan Allah untuk memberikan kemenangan kepada kita.
• Keteguhan sikap kadang-kadang menimbulkan kekerasan oleh karenanya perlu diimbangi dengan yang kedua.

(2) Arhabu shadran (paling berlapang dada)

• Bukan paling banyak mengelus dada.
• Silakan bicara tetapi silakan buktikan.
• Jika tidak ada lapang dada akan timbul kekakuan.

(3) A’maqu fikran (pemikiran yang mendalam)

• Mendalami apa yang terjadi.
• Jangan terlarut pada fenomena, tetapi lihatlah ada apa di balik fenomena tsb.
• Ketika kita merespon pun akan objektif.
• Respon-respon kita objektif, terukur, mutawazin (seimbang).
• Pemikiran yang mendalam kadang-kadang membuat kita terjebak pada hal yang sektoral, maka harus segera diimbangi pula dengan yang bekal keempat:

(4) Ausa’u nazharan (pandangan yang luas)

• Temuan sektoral perlu dicari.

(5) Ansyathu amalan (paling giat dalam bekerja)

• Sambil merespon sesuai dengan kebutuhan tetap kita harus giat bekerja.
• Orang-orang tertentu saja yang menangani, selebihnya harus terus bergerak dalam kerangka amal jamai. Energi kita harus prioritas untuk membangun negeri.
• Bekerja untuk Indonesia di segala sektor, struktur sampai tingkat desa, dan kader-kader yang mendapat amanah di pemerintahan. Fokuskan semua bekerja.

(6) Ashlabu tanzhiman (paling kokoh strukturnya)

• Kita jamaah manusia, ada kekurangan, ada kesalahan. Kita harus rajin membersihkannya. Seorang muslim ibarat orang yang tinggal di pinggir sungai dan mandi lima kali sehari. Jika sudah begitu, pertanyaannya: “Masih adakah daki-daki kita?”
• Allah berfirman “wa qul jaal haq wa zahaqal bathil”. Secara fitrah jika al Haq muncul, maka kebatilan akan lenyap, oleh karena itu teruslah hadirkan al Haq dan mobilisir potensi kebaikan. Jika kita lengah mendzohirkan al-haq maka kebatilan yang tadinya marjinal akan tampil dan al-haq terbengkalai.
• Hidup berjamaah adalah untuk memobilisir potensi-potensi kebaikan.

(7) Aktsaru naf’an (paling banyak manfaatnya)

• Khoirunnas anfa’uhum linnas.
• Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.
• Buktikan bahwa jamaah ini banyak manfaatnya sehingga berhak mendatangkan pertolongan Allah dan pertolongan kaum Mukminin.

Jika tujuh hal itu dilakukan untuk menghadapi tantangan dan rekayasa, insya Allah dakwah ini akan semakin kokoh dan semakin diterima untuk menghadirkan kebajikan-kebajikan yang diharapkan oleh seluruh bangsa.

*Disampaikan dalam Acara DPW PKS Jabar di Lembang, 19 Maret 2011

*posted: pkspiyungan.blogspot.com

Jumat, Maret 25, 2011

Jumat, Maret 25, 2011 - No comments

Mitologi Yunani 1 ; Dewa Zeus

Ini gara-gara nonton and baca serialnya Percy Jackson... akhirnya pengen posting tentang mitologi Yunani. sebenarnya ini mata kuliah pilihan waktu semester 6 kalo gak salah, tapi sayangnya aku ngambil Bahasa Latin. tapi gak apalah sekarang baru belajar hehe.... tapi karena ini cuma mitos... jadi yaaa JANGAN DIANGGAP BENAR! Sekedar untuk tahu sj karena mitos ini sangat berpengaruh sehingga didirikanlah patung dan simbol-simbol dewa-dewanya.

Dewa Zeus
Zeus lahir saat Kronos memerintah dunia dengan menyebar segala bentuk kejahatan. Dewa-dewa di Kreta bergegas menolong bayi Zeus, bidadari dan peri hutan merawat bayi Zeus. Binatang hutan sangat menyayangi Zeus. Amaltea, si kambing suci merawat Zeus dengan kasih sayang.

Suatu hari, karena Zeus yang terlalu kuat memegangi tanduk Amaltea saat bermain di punggungnya, tanduk itu patah. Dewa kecil itu menghibur Amaltea dengan berjanji bahwa tanduknya yang telah patah akan menjadi Tanduk Kelimpahan. Maka setiap Amaltea mengayunkan tanduknya, mengalirlah segala macam buah yang lezat.
Seekor burung rajawali yang bijak selalu membawakan minuman nektar untuk Zeus. Ceritanya tentang tempat-tempat yang jauh sangat memesonakan ditelinga Zeus. Dari rajawalilah Zeus tahu tentang nasib saudara-saudaranya dan kejahatan Kronos.
Zeus akhirnya berniat menjatuhkan Kronos dari tahta para dewa. Okeanus membantu Zeus dan menyarankan mengeluarkan saudara-saudaranya dari perut Kronos.
Metis anak Okeanus dewi yang tahu semua tanaman di bumi, memberikan minuman dari tumbuhan untuk diminumkan kepada Kronos. Akibatnya keluarlah semua saudara Zeus dari perut ayahnya yang jahat melewati mulutnya.
Menyadari bahaya yang muncul, Kronos memanggil saudara-saudaranya, para Titan. Zeus dan saudara-saudaranya dibantu dewa Okeanus, Kretos, Zelos dan Nike juga Prometeus putra Titan Lapetus yang penyayang. Raksasa mata satu, Kiklopes, juga ada di pihak Zeus. Mantel Zeus dari bulu Amaltea yang sakti melindunginya dari bahaya.
Akhirnya perang pun pecah dan berlangsung selama 10 tahun! Dunia tersa mencekam saat itu. Awan gelap, guntur dan ombak lautan menggila. Gempa dahsyat dan sepak terjang para Titan dan para kesatria memporak-porandakan dunia! Akhirnya para Titan takluk dan dimasukkan dalam Tartarus.
Dewa-dewa pemenang perang pergi menuju Olympus. Dewi Bumi murka melihat anak-anaknya dimasukkan ke dalam Tartarus, maka dilahirkanlah Taifun seekor naga raksasa yang mengerikan. Taifun menyerang Zeus dan perkelahian dahsyat terjadi sampai jauh ke Suriah. Akhirnya atas bantuan Hermes putra Zeus, Taifun dapat dikalahkan.
Perkelahian itu menjadi muasal terjadinya Pegunungan Berdarah di Trakia dan gunung berapi Etna.

Dunia dibangun kembali dan dipimpin Zeus dari Olympus bersama dewa-dewa. Ia beristrikan Hera, sedang dewa-dewi yang terkenal diantaranya Temis dan Yustisia dewi hukum dan keadilan, Irene pembenci perang, Nike dewi kemenangan serta Furi dewi pembalasan.
Zeus menyebarkan duka dan kegembiraan bagi manusia. Takdir diatur oleh dewi Kloto pemegang benang kehidupan, Lakhesis penarik undian keberuntungan dan Anthropos yang mencatat segala yang diputuskan oleh dua dewi yang tak lain adalah kakak-kakaknya putri Zeus. Sementara itu Dewi Fortuna menyebarkan keberuntungan bagi yang bernasib baik.
Di Olympus ada 12 dewa yang sangat dihormati yaitu: Zeus sendiri, Hera istrinya, Atena dewi kebijaksanaan, seni dan perang yang adil, Apollo, Poseidon dewa laut, Artemis yaitu dewi malam purnama, Afrodite dewi cinta, Hefestus yang pincang dewa api dan kerajianan , Hermes yang cerdik dengan sandal bersayap, Ares dewa perang, serta Hestia dewi rumah tangga

Jumat, Oktober 22, 2010

Jumat, Oktober 22, 2010 - 5 comments

Naming System In English

Penamaan anak merupakan hal penting dalam banyak budaya. Bahkan, tak sedikit masyarakat di banyak daerah yang menganggap bahwa nama dapat menggariskan dan menggambarkan bagaimana hidup anak mereka. Dari kepercayaan inilah kemudian tata cara penamaan mulai diperhitungkan dan diwariskan dari tahun ke tahun hingga berabad-abad. 

Kali ini, Dee akan membahas tentang sistem penamaan dalam kebudayaan Inggris. seperti yang kita tahu bahwa di negara Inggris dan negara-negara Berbahasa Inggris pada umumnya memiliki tata urutan nama seperti Given Name, Middle Name dan Surname. Apa sebenarnya arti dari masing-masing frasa itu? dan apa fungsinya?
Ok, Sekarang Perhatikan Dian Hadriani Pratama. 
Dian adalah 'Given Name'
Hadriani adalah Middle Name
Pratama ialah Surname
Given name ialah nama yang diberikan oleh orang tua kita, kadang disebut juga Forename atau First name. kemudian Middle name ialah nama kedua yang diberikan orang tua kita. banyak negara yang tidak menganut sistem middle name karena dirasa cukup membingungkan, Tapi dianut oleh sebagian besar negara di Amerika. lalu surname atau yang biasanya disebut family name. Cara menetapkan surname atau family name sangat berbeda masing-masing negara. ada yang diambil dari jalur ayah dan ada juga dari pihak ibu, atau bahkan diambil dari nama2 tertentu. ada juga yang bahkan tak memakai Surname. 
Jadi pada saat kita mengisi Filling Form beasiswa, jangan langsung kaget. isi saja nama Ayah pada Form Surname, dan jika tidak memiliki middle name kita boleh mengosongkan Form-nya (hal ini tidak dipermasalahkan oleh bagian administrasi). yang bermasalah jika kita hanya memiliki satu nama misalnya "Nuraeni" saja atau "Ismail" saja. Sebelum melanjutkan,  ada cerita Dosen yang agak lucu tentang hal ini. Teman dosenku itu cuma memiliki satu nama, sebut saja Mahmud. akhirnya ia bermasalah di bagian administrasi, ia diminta menambahkan nama pada bagian belakang namanya dan syaratnya tidak boleh berbeda dengan Akta Kelahiran. ia kebingungan. akhirnya dia mendouble namanya menjadi Mahmud Mahmud. syukurlah diterima. hehehe...
Given name dalam kebudayaan Inggris sangat diperhitungkan. given name biasanya diambil dari banyak hal seperti, 
  • gelar kekayaan atau kebangsawanan misalnya Sarah (Sara, Princess) atau Albert (Bangsawan yang cerdas atau cemerlang)
  • Sumber yang popular lainnya ialah Objek. Misalnya Peter (dari Petra : Batu) atau Steven (dari Stephanos ; Mahkota)
  • Nama-nama Bunga (bagi perempuan), contoh yang terpopuler ialah Rose dan Lily.
Pada sekitar Tahun 1700-an, di Inggris sangat popular dengan rumusan pemberian nama --yang sebenarnya telah ada dari kebudayaan Gaelic, bahkan masih tersisa pada kebudayaan Irlandia. Rumusan ini bagi banyak masyarakat sangat baik digunakan, entah untuk alasan kemudahan atau untuk alasan menjaga penamaan keluarga. perumusan yang dimaksud ialah sebagai berikut :
  1. Anak Laki-laki pertama akan dinamai dengan nama ayah dari AYAH (kakek dari garis ayah)
  2. Anak Laki-laki kedua akan dinamai dengan nama ayah dari IBU (Kakek dari garis Ibu)
  3. Anak Laki-laki ketiga akan dinamai dengan nama Ayah
  4. Anak Laki-laki keempat akan dinamai dengan nama saudara Laki-laki tertua dari pihak ayah (Paman yang paling tua dari pihak ayah)
  5. Anak Perempuan pertama akan dinamai dengan nama ibu dari IBU (nenek dari pihak Ibu)
  6. Anak perempuan kedua akan dinamai dengan nama ibu dari Ayah (nenek dari pihak ayah)
  7. Anak perempuan Ketiga akan dinamai dengan nama Ibu
  8. Anak perempuan Keempat akan dinamai dengan nama saudara perempuan tertua dari pihak Ibu (Tante tertua dari pihak Ibu).
Makanya, populasi anak yang memiliki nama yang sama berkembang pesat. dan jangan heran, dalam beberapa situs yang meneliti tentang genealogi mencatat hingga 24% - 26% warga saat itu memiliki nama Mary dan John. Jadi, Jika warga kita sekitar 10.000 orang artinya 2.400 - 2.600 warga memiliki nama Mary dan John. hhhfffff......

Surname, hmmm.....Ada beberapa referensi yang menyebutkan bahwa Masyarakat Inggris mulai menggunakan surname pada abad ke 13 atau 14. pada sekitar tahun 1400-an sebagian besar masyarakat Inggris dan Skotlandia telah menggunakan Surname, bahkan pada masa itu Raja Henry VII --Raja Inggris yang berkuasa-- menetapkan bahwa anak yang lahir harus tercatat dengan Surname dari Ayah. Meskipun begitu banyak juga dari orang-orang Skotlandia dan sebagian besar masyarakat Wales belum menggunakan Surname hingga abad 17. 

Banyak Surname Inggris yang berasal dari 7 tipe berikut ;
  1. Nama Pekerjaan atau profesi misalnya :  SmithSawyerFullerBrewerClarkCooperCookCarpenterBaileyParkerForrester, HeadPalmerArcherHuntBakerMillerDyerWalkerWoodman,TaylorTurnerKnight SlaterMasonWeaverCarterWright
  2. Karateristik personal misalnya : ShortBrownBlackWhiteheadYoungLongWhite
  3. Fitur geografis, misalnya : BridgeCampHillBushLakeLeeWoodHolmesForestUnderwoodHallBrooks FieldsStoneMorleyMoorePerry
  4. Nama tempat, misal :  WashingtonEveringhamBurtonLondonLeightonHamiltonSuttonFlintLaughton
  5. Perkebunan, biasanya digunakan oleh pemilik lahan
  6. Keturunan, baik ayah atau Ibu. Contoh dari pihak ayah : Jackson, Wilson, Thompson, Dawson, Johnson, Harrison, Mc Faden, Mc Feehly (Mc atau Mac dari Irlandia artinya 'Son of' ada juga yang berarti 'Daughter Of'). Mac Donald donk! ya gak?
  7. Bersifat religius atau Ikatan kelompok keagamaan, misalnya : Kilpatrick (Pengikut Patrick), Kilbride (Pengikut Bridget). Beberapa sumber mengatakan bahwa Kil berasal dari 'Chill' bahasa Gaelic yang berarti Gereja.
Di dunia modern, sistem penamaan Given Names biasanya lebih mengikut pada budaya yang lagi 'IN', tapi Surname masih dijaga oleh sebagian besar masyarakat. hal ini justru memudahkan pencarian leluhur terdahulu dan akar keluarga masing-masing. tetapi yang menjadi permasalahan ialah jika wanita menikah apakah ia harus mengikut pada Surname-nya atau mengikut pada nama suami. Dahulu, Zaman abad pertengahan jika seorang pemuda dari kalangan biasa menikah dengan seorang wanita yang memiliki status yang lebih tinggi, maka ia akan mengikut pada nama Istrinya. hal ini menjadi marak terutama di kalangan warga Kanada yang memakai sistem garis Ibu. Tapi kemudian kebudayaan yang dipertahankan hingga sekarang ialah Istri menggunakan Nama akhir suami. 

HHHHmmmffff.... Whoaaammm.. ternyata sudah jam 01.17. 
semoga tulisan ini bermanfaat terutama bagi yang mempelajari kebudayaan inggris. 

Referensi ;
  • Family Name, http://en.wikipedia.org
  • Talan Gwynek, Late 16th Century English Given Names
  • Donna Przecha, The Importance of given Name, www.genealogy.com