Tampilkan postingan dengan label Tsaqafah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tsaqafah Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, November 16, 2011

Rabu, November 16, 2011 - No comments

Baitud Dakwah

Oleh : [alm] KH Rahmat Abdullah
Suatu malam menjelang fajar, dalam inspeksi rutinnya, Khalifah II Umar bin Khattab mendengar dialog menarik antara seorang ibu dengan gadis kencurnya."Cepatlah bangun, perah susu kambing kita dan campurkan dengan air sebelum orang bangun dan melihat kerja kita."Bu, saya tak berani, ada yang selalu melihat gerak-gerik kita."Siapa sih sepagi ini mengintai kita?" sang ibu balik bertanya. "Bu, Allah tak pernah lepas memperhatikan kita." Khalifah segera kembali dengan satu tekad yang esok dilaksanakannya, melamar sang gadis untuk puteranya, 'Ashim bin Umar. Kelak dari pernikahan ini lahir seorang cucu : Umar bin Abdul Aziz, khalifah kelima.

Tuan & Nyoya Da'wah yang saya hormati, Tentu saja istilah baitu da'wah ini tidak dimaksudkan sebagai rumah tempat warganya setiap hari berpidato. Juga bukan keluarga dengan aktifitas belajar mengajar seperti laiknya sebuah sekolah formal. Ia adalah sebuah wahana tempat pendidikan berlangsung secara mandiri dan alami namun bertarget jelas.

Ada kegawatan yang sangat ketika roda keluarga meluncur tanpa kendali. Saat salah seorang anggotanya sadar apa yang sedang terjadi, segalanya mungkin telah terlambat. "Keterlambatan" itu dapat mengambil bentuknya pada ABG yang asing dari nilai-nilai ayah ibunya, atau ayah yang lupa basis keluarganya oleh kesibukan kerja diluar, atau ibu yang terpuruk dalam rutinitas yang membunuh kreatifitasnya, atau karir yang menggilas peran dan fitrah keibuannya.

Banyak orang merasa telah menjadi suami, istri atau ayah dan ibu sungguhan, padahal mereka baru menjadi ayah, ibu, suami, atau istri biologis. Sangat kasar kalu diistilahkan menjadi jantan, betina, atau induk dan biang, walaupun dalam banyak hal ternyata ada kesamaan. Kalau hanya memberi makan dan minum kepada anak-anak: kambing, ayam, dan kerbau telah memerankan fungsi tersebut dengan sangat baik. Dan, isu sentral "pewarisan nilai-nilai kehidupan" dalam kehidupan mereka tak soal. Buktinya, tak satupun anak ayam yang berkelakuan kerbau atau anak kerbau berkelakuan belut, atau anak kambing berkelakuan serigala. Adalah suatu penyimpangan bahwa ada anak manusia bertingkahlaku babi, serigala, harimau, atau musang.

Tentu saja ini tidak dimaksud mendukung program robotisasi anak yang dipaksa menghafal seluruh program yang dijejalkan bapak-ibunya tanpa punya peluang menjadi dirinya sebagai hamba Allah, karena mereka harus menjadi hamba ayah, hamba ibu, dan hamba guru. Ini tidak ada hubungannya dengan program tahfidz atau apresiasi seni Islami yang menjadi bagian dari sungai fitrah tempat air kehidupan mengalir sampai jauh.

Misteri Berkah

Saat ini ada beberapa keluarga sederhana, dibimbing oleh "intuisi" kebapakan dan keibuan, mendapat berkah dalam mendidik anak-anak mereka. Anak SMU-nya lulus dengan baik, plus hafal 1000 Alfiah Ibnu Malik, rujukan utama gramatika Arab (Nahwu). Lumayan mengagumkan, jebolan SMU menjadi rujukan sesama mahasiswa di sebuah Universitas terkemuka di Negara Arab. Tahun-tahun berikutnya sang adik menyusul dengan hak beasiswa ke sebuah universitas unggulan di Eropa. Lainnya bisa melakoni dua kuliah yang "pelik" : bahasa Arab di sebuah kolese paling representatif sementara siangnya mengambil jurusan Ekonomi. Kemenakannya hafal Al-Qur'an 30 juz menjelang akhir semester delapan di institut teknologi paling bergengsi di negeri ini.

Kemenakan lainnya lulus akademi militer angkatan darat tanpa kehilangan kesantriannya yang pekat. Sang bapak jauh dari penguasaan teori ilmu-ilmu pendidikan. Ketika digali hal yang spesial dari kelakuannya, muncul jawaban yang signifikan : Kecintaan keluarga tersebut kepada ulama (dalam arti yang sesungguhnya) dan keberaniannya amar ma'ruf nahi mungkar tanpa harus selalu mengandalkan mimbar tabligh. Mengesankan sekali ucapan Ali Zainal Abidin, cucu Ali bin Abi Thalib, "Barangsiapa meninggalkan kewajiban amar ma'ruf nahi mungkar, maka anak, isteri, dan pembantunya pun akan membangkang kepadanya."

Ternyata memang, keikhlasan seseorang atau keluarga kerap menembus sampai beberapa generasi sesudahnya. Boleh jadi seseorang merasa telah mejadi bagian dari da'wah yang besar dan berkah, tetapi bukan sikap da'i yang dirawatnya. Alih-alih dari membimbing masyarakat dengan fiqh dan akhlak da'iyah, justru sebaliknya, hanya ghibah dan pelecehan yang digencarkannya terhadap masyarakat. Padahal, besar kemungkinan mereka tidak tersentuh da'wah atau tidak mendapatkan komunikasi yang memadai.

Ikhlas, nilai plus yang menembus lintas generasi Keikhlasan yang "naif" Nabi Ibrahim yang rela –demi melaksanakan perintah Allah- meninggalkan istri dan bayinya di lembah yang tak bertanaman di dekat rumah Allah yang dihormati (QS.Ibrahim : 37) menghasilkan bukan hanya turunan nasab yang konsisten, tetapi juga turunan fikrah yang militan.

Ummu Sulaim ibu Anas bin Malik yang begitu stabil emosinya dan begitu mendalam keikhlasannya menerima kematian bayinya, mendapat 100 anak dan cucu, semuanya telah hafal Al-Qur'an dalam usia sangat dini. Itu hasil hubungan yang penuh berkah -ditingkahi doa berkah Rasulullah SAW- di malam yang sangat beralasan baginya untuk "meratapi" bayinya yang tiada. Demikian pula pengkhianatan istri Nabi Luth dan Nabi Nuh –yang karenanya Allah menyebutnya dengan imra-ah (perempuan) bukan zaujah (istrinya)- melahirkan generasi yang sangat berbeda. Yang satu generasi sangat rabbani seperti Nabi Ismail as, yang cermin kepribadiannya membersit dalam ungkapan pekat nilai-nilai tauhid : "'Ayahanda, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, akan kau temukan daku insya Allah termasuk orang-orang yang sabar." (QS.37:102)

Di seberang lain dengan pongahnya Yam bin Nuh berkata,saat ayahnya mengajak naik bahtera penyelamat, "Aku akan berlindung ke gunung yang akan menyelamatkanku dari air bah." (QS.11:43). Di zaman ketika setiap serigala dengan mudah menyerbu masuk ke rumah-rumah yang tak lagi berpagar dan berpintu, siapa yang merasa aman dan mampu melindungi anak-anak fitrah dari terkamannya? Siapa yang tabah melindungi gelas bening dan kertas putih suci itu dari ancaman yang setiap waktu dapat memecah-hancurkan dan mencemari mereka? Siapa yang tak tergetar hatinya melihat cermin bening yang semestinya ia perhatikan betul raut wajahnya disana, seraya merintihkan desakan suara hatinya dalam sujud panjang di keheningan malam:

"Dan Kami telah berpesan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya mengandungnya dengan susah dan melahirkannya dengan susah. (Masa) hamil dan menyapihnya tiga puluh bulan. Sehingga ketika ia mencapai masa kuatnya dan mencapai usia empat puluh tahun ia berkata : Ya Rabbi, ajarkan daku agar dapat mensyukuri nikmat yang Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan beramal shalih yang Engkau ridhai serta perbaikilah untukku dalam keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu, dan aku termasuk kaum yang menyerahkan diri." (QS Al Ahqaf: 15).

Source : Pkspiyungan.blogspot.com

Rabu, November 16, 2011 - No comments

7 Arahan Ustadz Hilmi Aminuddin

Situasi yang kita hadapi sekarang adalah mata rantai dari ujian-ujian dakwah sebelumnya. Adalah sunatullah bahwa akan ada terus rekayasa untuk mengkerdilkan dakwah. Namun yang penting adalah bagaimana kemampuan kita untuk membuktikan dengan kerja nyata.

Kita sebagai dai dan daiyah diperintahkan oleh Allah SWT jika menghadapi sesuatu yang sulit, yang menghimpit, cepat kembali kepada Allah (fafirruu ilallah..). Kemudian selesaikan dengan mentadabburi konsep Allah. “Afala yatadabbarunal Qur’an am ‘ala quluubin aqfaluha.”

Dari tadabur ayat-ayat Allah ini, maka dalam menghadapi berbagai masalah, ancaman dan makar, maka kita harus memiliki bekalan-bekalan yakni:

(1) Atsbatu mauqifan (menjadi orang yang paling teguh pendirian/paling kokoh sikapnya)

• At-Tsabat (keteguhan) adalah tsamratus shabr (buah dari kesabaran).
• Famaa wahanuu lima ashobahum fii sabiilillahi waaa dhoufu wamastakanuu…
• “…mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah. Allah menyukai orang-orang yang sabar…” (3:146)
• Keteguhan itu membuat kita tenang, rasional, obyektif dan mendatangkan kepercayaan Allah untuk memberikan kemenangan kepada kita.
• Keteguhan sikap kadang-kadang menimbulkan kekerasan oleh karenanya perlu diimbangi dengan yang kedua.

(2) Arhabu shadran (paling berlapang dada)

• Bukan paling banyak mengelus dada.
• Silakan bicara tetapi silakan buktikan.
• Jika tidak ada lapang dada akan timbul kekakuan.

(3) A’maqu fikran (pemikiran yang mendalam)

• Mendalami apa yang terjadi.
• Jangan terlarut pada fenomena, tetapi lihatlah ada apa di balik fenomena tsb.
• Ketika kita merespon pun akan objektif.
• Respon-respon kita objektif, terukur, mutawazin (seimbang).
• Pemikiran yang mendalam kadang-kadang membuat kita terjebak pada hal yang sektoral, maka harus segera diimbangi pula dengan yang bekal keempat:

(4) Ausa’u nazharan (pandangan yang luas)

• Temuan sektoral perlu dicari.

(5) Ansyathu amalan (paling giat dalam bekerja)

• Sambil merespon sesuai dengan kebutuhan tetap kita harus giat bekerja.
• Orang-orang tertentu saja yang menangani, selebihnya harus terus bergerak dalam kerangka amal jamai. Energi kita harus prioritas untuk membangun negeri.
• Bekerja untuk Indonesia di segala sektor, struktur sampai tingkat desa, dan kader-kader yang mendapat amanah di pemerintahan. Fokuskan semua bekerja.

(6) Ashlabu tanzhiman (paling kokoh strukturnya)

• Kita jamaah manusia, ada kekurangan, ada kesalahan. Kita harus rajin membersihkannya. Seorang muslim ibarat orang yang tinggal di pinggir sungai dan mandi lima kali sehari. Jika sudah begitu, pertanyaannya: “Masih adakah daki-daki kita?”
• Allah berfirman “wa qul jaal haq wa zahaqal bathil”. Secara fitrah jika al Haq muncul, maka kebatilan akan lenyap, oleh karena itu teruslah hadirkan al Haq dan mobilisir potensi kebaikan. Jika kita lengah mendzohirkan al-haq maka kebatilan yang tadinya marjinal akan tampil dan al-haq terbengkalai.
• Hidup berjamaah adalah untuk memobilisir potensi-potensi kebaikan.

(7) Aktsaru naf’an (paling banyak manfaatnya)

• Khoirunnas anfa’uhum linnas.
• Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.
• Buktikan bahwa jamaah ini banyak manfaatnya sehingga berhak mendatangkan pertolongan Allah dan pertolongan kaum Mukminin.

Jika tujuh hal itu dilakukan untuk menghadapi tantangan dan rekayasa, insya Allah dakwah ini akan semakin kokoh dan semakin diterima untuk menghadirkan kebajikan-kebajikan yang diharapkan oleh seluruh bangsa.

*Disampaikan dalam Acara DPW PKS Jabar di Lembang, 19 Maret 2011

*posted: pkspiyungan.blogspot.com

Rabu, Agustus 22, 2007

Rabu, Agustus 22, 2007 - No comments

Puasa Sebelum Islam

Oleh: Ustadz Nabiel Fuad Al-Musawa

Mengambil Pelajaran (ibrah) dari Kayfiyyatus-Shaum (Cara Shaumnya) Ummat Beriman Sebelum Nabi Muhammad (Semoga Shalawat serta Salam Terlimpah Pada Diri Beliau)

"Shaum" dalam menurut makna lughawi (bahasa Arab) maknanya adalah menahan diri (imsak) baik dari makan, minum dan termasuk juga berbicara[1].
Adapun secara isthilahi (terminologi syariat), bermakna : Menahan diri dari makan, minum hubungan seksual dan perbuatan2 maksiat dengan niat yang ikhlas, dari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari (QS 2/187, 19/26). Ibadah ini diwajibkan pada th ke-2 hijrah.

Puasa yg baik dan benar akan menjadi sarana bagi seorang mu'min untuk mencapai derajat taqwa, berdasarkan firman-Nya : …la’allakum tattaqun (QS 2/183), dan bertaqwa sama artinya dengan proses pensucian diri seseorang (tazkiyyah nafs), berdasarkan QS Asy-Syams, 91/7-10 (wa nafsin wamaa sawwaahaa, fa 'alhamahaa fujuuraha wa taqwaahaa …). Oleh sebab itulah
maka kita dapati bhw syariat puasa merupakan syariat yg telah diturunkan hampir setua umur manusia.

Kita akan dapati dlm paparan ttg syariat shaum ummat sebelum kita tsb, ada diantara mereka yang berpuasa dengan (selain tidak makan & minum) juga mereka tidak boleh berbicara, ada yang hanya boleh berbuka dengan sesauk air saja, dan ada yang istiqomah berpuasa selang sehari secara terus-menerus sepanjang masa.

1. Shaum di Zaman Ummat Nabi Zakaria, Maryam dan 'Isa (Semoga Salam Tercurah Untuk Meraka Semua)

"Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu, jika kamu melihat seorang manusia, Maka katakanlah: Sesungguhnya aku telah bernadzar untuk berpuasa bagi Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini". (QS Maryam, 19/26)

Berkata Imam Abu Ja'far Ibnu Jarir At-Thabari dlm tafsirnya[2] sebagian mufassir menyatakan bhw makna "shaumaa" dlm ayat tsb yaitu : shaamat minat tha'aam wasy syaraab wal kalaam[3] (berpuasa makan, minum & bicara).

Imam Abul Fida' Ismail bin Umar bin Katsir Al-Quraisyi dlm tafsirnya[4] menambahkan bahwa riwayat tsb selain dari Qatadah juga dari Anas, As-Suddy dan AbduRRAHMAN bin Zaid. Hal tsb karena bahwa syariat mereka jika sedang berpuasa maka haram makan, minum dan berbicara.

Imam -muhyis sunnah- Abu Muhammad Al-Husein bin Mas'ud Al-Baghawi dlm tafsirnya[5] menambahkan bhw Imam As-Suddi berkata bhw syariat puasa Bani Isra'il adalah : Barangsiapa yg ingin bersungguh2 dlm berpuasa maka tidak boleh makan dan berbicara sampai senja hari.

2. Shaum di Zaman Thalut (Semoga Keselamatan Allah bagi Beliau) dan Ummatnya

"Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: Sesungguhnya ALLAAH akan menguji kamu dengan suatu sungai, maka siapa di antara kamu meminum airnya; ia bukanlah pengikutku dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menciduk seciduk tangan, maka dia adalah pengikutku. Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang saja diantara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya. Maka orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui ALLAAH, berkata: Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin ALLAAH dan ALLAAH beserta orang-orang yang sabar." (QS Al-Baqarah, 2/249)

Berkata Imam Abu Ja'far At-Thabari dlm tafsirnya[6] bhw ALLAAH -Yg Maha Suci lagi Maha Tinggi- menguji mereka untuk mengetahui ketaatan mereka dengan menahan diri mereka (berpuasa-pen) tidak meminum dari air sungai tsb, dan menjadikan perbuatan tsb (puasa minum) itu menjadi tolok ukur keimanan mereka kepada ALLAAH dan Hari Akhir[7].

Dari atsar Wahab bin Munabbih[8] berkata : Ketika Thalut dan balatentaranya berangkat maka pasukannya berkata : Kita tidak membawa air, maka berdoalah kepada ALLAAH agar kita bisa perjalanan kita ini senantiasa melewati sungai! Maka berkata Thalut : Sesungguhnya ALLAAH kelak akan menguji kalian dengan sungai tsb.

Imam Bukhari dlm shahihnya menyatakan bhw jumlah orang2 yang mampu bertahan dlm ujian ALLAAH -Yg Maha Suci lagi Maha Tinggi- tsb hanya berjumlah 309 orang saja, yaitu sama jumlahnya dengan jumlah pasukan kaum muslimin yg ikut dlm perang Badr[9]

3. Shaumnya Nabi Daud (Semoga Keselamatan Allah Bagi Beliau)

"Dari Ibnu Umar -semoga ALLAAH Yg Maha Suci lagi Maha Tinggi meridhoinya- berkata (dari hadits yg panjang) : Bertanya Nabi -semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah pd diri beliau- : Bagaimana kamu berpuasa? Jawabku : Setiap hari. Tanya beliau -semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah pd diri beliau- lagi : Bagaimana kamu mengkhatamkan Al-Qur'an? Jawabku : Setiap malam. Lalu sabda beliau -semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah pd diri beliau- : Puasalah 3 hari setiap bulan dan khatamkan Al-Qur'an 1 kali setiap bulan! Maka aku berkata : Aku kuat berpuasa lebih dari itu. Sabda Nabi -semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah pd diri beliau- : Puasalah 3 hari setiap pekan! Sabda Nabi -semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah pd diri beliau- : Berbukalah 2 hari dan berpuasalah 2 hari. Aku berkata lagi : Aku kuat
berpuasa lebih dari itu. Sabda beliau -semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah pd diri beliau- : Puasalah sebaik2 puasa, yaitu puasa Daud, puasa sehari dan berbuka sehari..[10]"

Dalam hadits di atas disebutkan tentang puasa (sunnah) yg paling utama yaitu puasanya NabiyuLLAAH Daud -semoga kesejahteraan bagi beliau- yg syariat puasanya adalah berpuasa selang sehari sepanjang masa.

Semoga ALLAAH -Yg Maha Suci lagi Maha Tinggi- merahmati beliau, alangkah beratnya syariat puasa beliau ini, seandainya hal ini diwajibkan kepada ummat kita niscaya akan banyaklah yg bermaksiat karena tidak mampu melaksanakannya.

4. Syariat Puasa Ummat Terdahulu Adalah Tidak Ada Makan Sahur

"Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu, mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. ALLAAH mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu ALLAAH mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan ALLAAH untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan ALLAAH, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah ALLAAH menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa."

Imam Al-Bukhari dlm shahihnya meriwayatkan beberapa hadits shahih[11] berkaitan dengan sabab-nuzul (sebab turunnya) ayat ini, yaitu bhw syariat puasa sebelum turunnya ayat tsb di atas, dimana kaum muslimin apabila sudah tidur maka mereka tidak boleh lagi makan dan minum sampai bertemu buka puasa pd keesokan harinya, hingga saat seorang sahabat yg bernama Qays bin Shirmah Al-Anshary -semoga ALLAAH Yg maha Suci lagi Maha Tinggi meridhoinya-, setelah ia bekerja seharian, maka saat tiba waktu berbuka puasa iapun tertidur karena kelelahan, maka iapun tidak boleh makan dan minum (berbuka), hingga ketika keesokan harinya saat tengah hari iapun jatuh pingsan, maka diceritakanlah hal tsb pada Nabi Muhammad -semoga shalawat serta salaam senantiasa tercurah pada beliau- maka turunlah ayat ini : "Dihalalkan untuk kalian pada malam hari di bulan puasa... dst."

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalany dlm syarahnya atas hadits Barra'[12] di atas menyatakan bahwa larangan ini berlaku terkait dengan tidur sebelum berbuka, adapun jika setelah berbuka maka boleh makan & minum sampai tibanya waktu Isya, jika telah lewat waktu Isya maka tidak boleh lagi makan & minum. Ini juga disepakati oleh Imam Al-Kasymiry dlm syarahnya atas hadits tsb[13] dan beliau menambahkan bahwa sebelum ayat ini diturunkan maka kaum muslimin dilarang untuk berhubungan suami istri selama sebulan Ramadhan.

Demikianlah beratnya syariat shaum ummat sebelum kita, sehingga disebutkan dlm hadits2 shahih bhw perbedaan antara shaum ummat kita & ummat sebelum kita adalah adanya makan Sahur[14], oleh sebab itu Nabi kita -semoga shalawat serta salam ALLAAH Yg Maha Suci lagi Maha Tinggi senantiasa tercurah pd beliau- mensunnahkan dengan sangat (mu'akkadah) kepada ummatnya untuk melakukan sahur, sekalipun (karena sangat mengantuk & lelahnya) hanya sahur dengan seteguk air (wa law bijur'atin min maa'in)[15]

ALLAAHu a'lamu bish Shawaab...


Diz sadur dari www.pks-anz.org...kalo mau artikel Islam yang lain silahkan buka di situsnya



Rabu, Agustus 22, 2007 - No comments

Khilafah Islamiyah

Oleh: Ustadz Ahmad Syarwat, Lc

Ada begitu banyak analisa para pemikir dan pengamat tentang sebab-sebab jatuhnya khilafah Turki Utsmani pada tahun 1924. Baik yang bersifat lebih teknis maupun sebab-sebab yang bersifat lebih umum.

Sebab-sebab secara teknis kita serahkan kepada para ahli sejarah, terutama sejarah Turki sendiri. Sedangkan yang akan kita bahas di sini adalah sebab-sebab secara umumnya saja.

A. Sebab Ekternal

Sudah kita ketahui bersama bahwa Khilafah Turki Utsmani kalah pada perang dunia pertama. Sebagai negara yang kalah perang, maka negeri itu dengan mudah ditindas, dirampok dan juga diperebutkan wilyahnya oleh para pemangsa dan lawan-lawannya.

Sampai terjadi penghinaan yang begitu besar, di mana bangsa Turki yang secara geografis memang penduduk Eropa dilecehkan dengan ungkapan "The Sickman in Europe." Bahkan kata "turkey" dalam ungkapan mereka merupakan pelecehan, yang artinya ayam kalkun.

Pahlawan dan tokoh muslim Turki pu tidak luput dari penghinaan. Salah satunya adalah Barbarossa si Janggut Merah. Di dalam cerita Asterik, tokoh Barbarosssa muncul sebagai bajak laut yang bodoh. Padahal beliau adalah pahlawan Islam di masanya dan pelaut kafir Eropa sangat takut dengan angkatan perangnya.

B. Sebab Internal

Penjajahan barat terhadap Turki semakin menusuk tatkala mereka berhasil meraih generasi muda Turki dengan pendidikan ala barat. Tentu saja semua itu untuk mendapatkan satu tujuan, yaitu sekulerisasi selapis generasi. Maka lahirlah kemudian generasi baru yang anti Islam, Islamo-phobia, sekuler, liberal dan berotak barat.

Mereka inilah yang kemudian didukung oleh Eropa untuk menumbangkan lembaga khilafah Islamiyah. Tercatat tokohnya adalah Mustafa Kemal Ataturk yang terlaknat. Sosok ini telah berhasil menumbangkan khilafah pada tahun 1924 lewat gerakan Turki Muda.

Sayangnya, hujaman belati mematikan ini justru masuk ke dalam pelajaran sejarah di negeri kita sebagai kebangkitan, bukan sebagai kejahatan. Rupanya, jaring-jaring kerja bangsa-bangsa kafir itu sedemikian luas, sehingga sosok Kemal Ataturk yang zhalim itu, justru muncul dalam buku sejarah kita sebagai pahlawan.

Padahal Kemal telah melakukan dosa yang bahkan Iblis pun tidak pernah melakukannya. Yaitu menumbangkan satu rangkaian khilafah Islamiyah yang terakhir. Padahal belum pernah sebelumnya umat Islam di dunia hidup tanpa naungan khilafah.

Sebab khilafah sudah ada sejak zaman Rasululullah SAW hidup, yakni sejak 15 abad yang lalu. Selama itu, umat Islam belum pernah hidup tanpa ada khilafah. Iblis dan para jin tidak pernah mampu menumbangkannya. Tiba-tiba seorang sekuleris yang nota bene agamanya masih Islam, malah menumbangkannya. Walhasil, sejak jatuhnya khilafah Turki, umat Islam masuk dalam bid'ah kubro. Sebuah bid'ah teramat besar yang melebihi semua jenis bid'ah yang pernah ada. Dan tentunya sangat dibenci dan dimurkai. Sebuah bid'ah berupa umat Islam hidup tanpa naungan khilafah.

Urutan Khilafah Sepanjang Sejarah Islam

Dengan wafatnya Rasulullah SAW pada tahun 623 M, umat Islam segera membaiat Abu Bakar ra sebagai pengganti beliau. Istilah pengganti ini dalam bahasa Arab adalah khalifah. Lengkapnya, khalifatu rasulillah atau pengganti Rasulullah. Maksudnya bukan menggantikan posisi kenabian Muhammad SAW, melainkan posisi beliau SAW sebagai pemimpin tertinggi umat Islam. Sebab nabi kita itu selain sebagi nabi, juga berperan sebagai pemimpin tertinggi umat Islam.

Selain itu, ada juga sebutan lain buat posisi tertinggi umat Islam sedunia, yaitu istilah Amirul Mukminin. Artinya adalah pemimpin umat Islam.

1. Khilafah Rasyidah

Khilafah Rasidah berdiri tepat di hari wafatnya Rasululllah SAW. Terdiri dari 4 orang atau 5 orang shahabat nabi yang menjadi khalifah secara bergantian. Mereka adalah:

  • Abu Bakar ash-Shiddiq ra (tahun 11-13 H/632-634 M)
  • 'Umar bin Khaththab ra (tahun 13-23 H/634-644 M)
  • 'Utsman bin 'Affan ra (tahun 23-35 H/644-656 M)
  • 'Ali bin Abi Thalib ra (tahun 35-40 H/656-661 M) dan
  • Al-Hasan bin 'Ali ra (tahun 40 H/661 M)

Masa berlakunya selama kurang lebih 30 tahun. Disebut juga sebagai khilafah rasyidah karena posisi mereka sebagai shahabat nabi yang mendapat petunjuk. Dan memang ada pesan dari nabi untuk mentaati para khalifah rasyidah ini.

2. Khilafah Bani Umayyah

Khilafah ini berpusat di Syiria, tepatnya di kota Damaskus. Berdiri untuk masa waktu sekitar 90 tahun atau tepatnya 89 tahun, setelah era khulafa ar-rasyidin selesai. Khalifah pertama adalah Mu'awiyyah. Sedangkan khalifah terakhir adalah Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam. Adapun masa kekuasaan mereka sebagai berikut:

  • Mu'awiyyah bin Abi Sufyan (tahun 40-64 H/661-680 M)
  • Yazid bin Mu'awiyah (tahun 61-64 H/680-683 M)
  • Mu'awiyah bin Yazid (tahun 64-65 H/683-684 M)
  • Marwan bin Hakam (tahun 65-66 H/684-685 M)
  • Abdul Malik bin Marwan (tahun 66-86 H/685-705 M)
  • Walid bin 'Abdul Malik (tahun 86-97 H/705-715 M)
  • Sulaiman bin 'Abdul Malik (tahun 97-99 H/715-717 M)
  • 'Umar bin 'Abdul 'Aziz (tahun 99-102 H/717-720 M)
  • Yazid bin 'Abdul Malik (tahun 102-106 H/720-724M)
  • Hisyam bin Abdul Malik (tahun 106-126 H/724-743 M)
  • Walid bin Yazid (tahun 126 H/744 M)
  • Yazid bin Walid (tahun 127 H/744 M)
  • Ibrahim bin Walid (tahun 127 H/744 M)
  • Marwan bin Muhammad (tahun 127-133 H/744-750 M)

Sebenarnya khilafah Bani Ummayah ini punya perpanjangan silsilah, sebab satu dari keturunan mereka ada yang menyeberang ke semenanjung Iberia dan masuk ke Spanyol. Di Spanyol mereka kemudian mendirikan khilafah tersendiri yang terlepas dari khilafah besar Bani Abbasiyah.

3. Khilfah Bani Abbasiyah

Kemudian kekhilafahan beralih ke tangan Bani 'Abasiyah yang berpusat di Baghdad. Total masa berlaku khilafah ini sekitar 446 tahun. Khalifah pertama adalah Abu al-'Abbas al-Safaah. Sedangkan khalifah terakhirnya Al-Mutawakil 'Ala al-Allah.

Secara rinci masa kekuasaan mereka sebagai berikut:

  • Abul 'Abbas al-Safaah (tahun 133-137 H/750-754 M)
  • Abu Ja'far al-Manshur (tahun 137-159 H/754-775 M)
  • Al-Mahdi (tahun 159-169 H/775-785 M)
  • Al-Hadi (tahun 169-170 H/785-786 M)
  • Harun al-Rasyid (tahun 170-194 H/786-809 M)
  • Al-Amiin (tahun 194-198 H/809-813 M)
  • Al-Ma'mun (tahun 198-217 H/813-833 M)
  • Al-Mu'tashim Billah (tahun 618-228 H/833-842M)
  • Al-Watsiq Billah (tahun 228-232 H/842-847 M)
  • Al-Mutawakil 'Ala al-Allah (tahun 232-247 H/847-861 M)
  • Al-Muntashir Billah (tahun 247-248 H/861-862 M)
  • Al-Musta'in Billah (tahun 248-252 H/862-866 M)
  • Al-Mu'taz Billah (tahun 252-256 H/866-869 M)
  • Al-Muhtadi Billah (tahun 256-257 H/869-870 M)
  • Al-Mu'tamad 'Ala al-Allah (tahun 257-279 H/870-892 M)
  • Al-Mu'tadla Billah (tahun 279-290 H/892-902 M)
  • Al-Muktafi Billah (tahun 290-296 H/902-908 M)
  • Al-Muqtadir Billah (tahun 296-320 H/908-932 M)
  • Al-Qahir Billah (tahun 320-323 H/932-934 M)
  • Al-Radli Billah (tahun 323-329 H/934-940 M)
  • Al-Muttaqi Lillah (tahun 329-333 H/940-944 M)
  • Al-Musaktafi al-Allah (tahun 333-335 H/944-946 M)
  • Al-Muthi' Lillah (tahun 335-364 H/946-974 M)
  • Al-Tha`i' Lillah (tahun 364-381 H/974-991 M)
  • Al-Qadir Billah (tahun 381-423 H/991-1031 M)
  • Al-Qa`im Bi Amrillah (tahun 423-468 H/1031-1075 M)
  • Al-Mu'tadi Bi Amrillah (tahun 468-487 H/1075-1094 M)
  • Al-Mustadhhir Billah (tahun 487-512 H/1094-1118 M)
  • Al-Mustarsyid Billah (tahun 512-530 H/1118-1135 M)
  • Al-Rasyid Billah (tahun 530-531 H/1135-1136 M)
  • Al-Muqtafi Liamrillah (tahun 531-555 H/1136-1160 M)
  • Al-Mustanjid Billah (tahun 555-566 H/1160-1170 M)
  • Al-Mustadli`u Biamrillah (tahun 566-576 H/1170-1180 M)
  • Al-Naashir Lidinillah (tahun 576-622 H/1180-1225 M)
  • Al-Dhahir Biamrillah (tahun 622-623 H/1225-1226 M)
  • Al-Mustanshir Billah (tahun 623-640 H/1226-1242 M)
  • Al-Musta'shim Billah (tahun 640-656 H/1242-1258 M)
  • Al-Mustanshir Billah II (tahun 660-661 H/1261-1262 M)
  • Al-Haakim Biamrillah I (tahun 661-701 H/1262-1302 M)
  • Al-Mustakfi Billah I (tahun 701-732 H/1302-1334 M)
  • Al-Watsiq Billah I (tahun 732-742 H/1334-1343 M)
  • Al-Haakim Biamrillah II (tahun 742-753 H/1343-1354 M)
  • Al-Mu'tadlid Billah I (753-763 H/1354-1364 M)
  • Al-Mutawakil 'Ala al-Allah I (th. 763-785 H/1364-1386 M)
  • Al-Watsir Billah II (tahun 785-788 H/1386-1389 M)
  • Al-Musta'shim (tahun 788-791 H/1389-1392 M)
  • Al-Mutawakil 'Ala al-Allah II (th. 791-808 H/1392-1409 M)
  • Al-Musta'in Billah (tahun 808-815 H/1409-1416 M)
  • Al-Mu'tadlid Billah II (tahun 815-845 H/1416- 1446 M)
  • Al-Mustakfi Billah II (tahun 845-854 H/1446-1455 M)
  • Al-Qa`im Biamrillah (tahun 754-859 H/1455-1460 M)
  • Al-Mustanjid Billah (tahun 859-884 H/1460-1485 M)
  • Al-Mutawakil 'Ala al-Allah III (th 884-893 H/1485-1494 M)
  • Al-Mutamasik Billah (tahun 893-914 H/1494-1515 M)
  • Al-Mutawakil 'Ala al-Allah IV (th 914-918 H/1515-1517 M)

Khilafah Bani Abbasiyah dihancurkan oleh pasukan Tartar (Mongol), sehingga umat Islam sempat hidup selama 3,5 tahun tanpa adanya khalifah. Namun kurun waktnya hanya terpaut 3 tahun setengah saja dan segera berdiri khilafah Utsmaniyah.

4. Khilafah Bani Utsmaniyyah

Khilafah Bani Utsmaniyyah tercatat memiliki30 orang khalifah, yang berlangsung mulai dari abad 10 Hijriyah atau abad ke enam belas Masehi. Nama-nama mereka sebagai berikut:

  • Salim I (tahun 918-926 H/1517-1520 M)
  • Sulaiman al-Qanuni (tahun 926-974 H/1520-1566 M)
  • Salim II (tahun 974-982 H/1566-1574 M)
  • Murad III (tahun 982-1003 H/1574-1595 M)
  • Muhammad III (tahun 1003-1012 H/1595-1603 M)
  • Ahmad I (tahun 1012-1026 H/1603-1617 M)
  • Mushthafa I (tahun 1026-1027 H/1617-1618 M)
  • 'Utsman II (tahun 1027-1031 H/1618-1622 M)
  • Mushthafa I (tahun 1031-1032 H/1622-1623 M)
  • Murad IV (tahun 1032-1049 H/1623-1640 M)
  • Ibrahim I (tahun 1049-1058 H/1640-1648 M)
  • Muhammad IV (tahun 1058-1099 H/1648-1687 M)
  • Sulaiman II (tahun 1099-1102 H/1687-1691 M)
  • Ahmad II (tahun 1102-1106 H/1691-1695 M)
  • Mushthafa II (tahun 1106-1115 H/1695-1703 M)
  • Ahmad III (tahun 1115-1143 H/1703-1730 M)
  • Mahmud I (tahun 1143-1168 H/1730-1754 M)
  • 'Utsman III (tahun 1168-1171 H/1754-1757 M)
  • Musthafa III (tahun 1171-1187 H/1757-1774 M)
  • 'Abdul Hamid I (tahun 1187-1203 H/1774-1789 M)
  • Salim III (tahun 1203-1222 H/1789-1807 M)
  • Musthafa IV (tahun 1222-1223 H/1807-1808 M)
  • Mahmud II (tahun 1223-1255 H/1808-1839 M)
  • 'Abdul Majid I (tahun 1255 H-1277 H/1839-1861 M)
  • 'Abdul 'Aziz I (tahun 1277-1293 H/1861-1876 M)
  • Murad V (tahun 1293-1293 H/1876-1876 M)
  • 'Abdul Hamid II (tahun 1293-1328 H/1876-1909 M)
  • Muhammad Risyad V (tahun 1328-1338 H/1909-1918 M)
  • Muhammad Wahiddin (II) (th. 1338-1340 H/1918-1922 M)
  • 'Abdul Majid II (tahun 1340-1342 H/1922-1924 M).

Khalifah terakhir umat Islam sedunia adalah 'Abdul Majid II. Semenjak tumbangnya khilafah terakhir ini, berarti umat Islam telah hidup lebih dari selama (2006-1924= 82 tahun) tanpa keberadaan lembaga yang menyatukan.

Kepastian Kembalinya Khilafah

Lepas dari realitas di lapangan yang kurang menggembirakan, di mana umat Islam saat in menjadi budak barat, kekayaan alam mereka dijarah, ekonomi mereka terpuruk, nilai mata uang mereka sangat rendah, hutang luar negeri merekabertumpuk tak terbayar, pemuda mereka dirusak, wanita mereka menjadi hamba syahwat, bahkan masih ditambah lagi dengan rombongan Islam liberal dan sebagainya, namunmasih ada harapan.

Kita masih menemukan satu hadits dari Rasulullah SAW yang cukup melegakan, yaitu kabar gembira dari beliau bahwa suatu saat, khilafah ini akan kembali terbentuk, bahkan dengan kualitasnya yang rasyidah itu.

Sabda Rasulullah saw, "Kemudian akan tegak Khilafah Rasyidah yang sesuai dengan manhaj Nabi”.

Namun tentunya khilafah ini tidak akan terbentuk begitu saja, bila hanya dengan doa dan diam saja. Atau hanya dengan bicara dan demonstrasi saja. Setiap umat Islam meski bersinergi untuk saling menguatkan dan saling menyokong semua upaya untuk kembali kepada khilafah Islamiyah.

Sebab setiap elemen umat punya potensi yang mungkin tidak dimiliki oleh saudaranya. Maka seruan untuk kembali kepada khilafah seharusnya bukan sekedar lips service, namun harus diiringi dengan kerja nyata, pembinaan dan pengkaderan 1,5 milyar umat, pendirian lembaga pendidikan dan sekian banyak pos-pos penting umat. Lantas diiringi juga dengan kebesaran hati, keterbukaan sikap serta jiwa kepemimpinan dunia Islam yang mumpuni.

Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita untuk dapat menyaksikan beridirnya khilafah Islamiyah semasa kita hidup. Sungguh sebuah kepuasan yang dimpikan oleh dunia Islam selama ini. Amien.

Wallahu a'lam bishshawab wassalamu 'alaikum warahmatullahi warabaraktuh.

Sumber: Eramuslim